Rabu, 04 September 2013

mencari sebuah makna kehidupan



Bagai katak di ujung tanduk,barangkali begitulah melukiskan keadaan kondisiku saat ini,

Panggil saja paija,aku seorang anak perempuan yang cacat tampa kaki sebelah,tp semua itu tak pernah menyurutkan aku mencari biaya untuk keluargaku,bapak ku sudah meninggal waktu adik bungsuku masih bayi,kini mak dan ke 6 keluargaku tinggal di sebuah gubuk kecil di pingiran kota,pada waktu pagi semua terlelap tidur aku bergegas mencari rejeki di pinggiran jalan raya untuk mengamen,mungkin karena kondisiku yang cacat sering kali ejekan demi ejekan aku terima dari temanku,sedih hati ini tidak semua orang berharap menjadi orang yang cacat.

Umur 14 tahun,ibuku sakit parah dan akhirnya meninggal,menyesal hati ini,andaikan aku punya uang yang banyak pasti nyawa ibuku terselamatkan,tp penghasilanku tidak seberapa hanya cukup untuk makan adik2 ku,kini beban semakin di pundak ku,rasa ingin sekolah aku tepis jauh2 aku harus bisa menjadi bapak dan ibu untuk 1 kakak perempuanku yang berumur 17 tahun dan adik2ku,tiap pagi sampai soreh ku berjuang mencari rejeki,sedangkan kakak sibuk mengurus di rumah merawat adik2 ku.

Kadang lelah tenaga ini lelah pikiran ini,tp hidup harus di jalani,tiap pagi aku bagaikan menjadi bapak untuk adik2ku yang mau berangkat sekolah untuk meminta uang saku.

Air mata ini menetes,jika melihat adik kecilku tidur berjejer bagaikan pindang asin yang di pajang di pasar.ku hanya bisa memandang baju dan alas tidur yang tak layak di pakai buat mereka tp apa daya aku sudah berusaha membahagiakan mereka tp aku aku sungguh sudah maksimal.

Terbesit di benak ini,aku ingin adik adiku hidup layak tidak kesusahan seperti aku dan kakak ku,akhirnya ku putus kan aku mendatangi sebuah panti asuhan dan mengharap sudi kiranya panti asuhan itu merawat adik2ku.

Alhamdulillah ALLAH MAHA BESAR,mereka dengan senang hati menerima ke empat adiku,dengan dalih berbohong ku ajak mereka ke sebuah rumah besar dan bersih yaitu pondok sebuah yatim piatu,Air mata ini meleleh di kalah melihat adik2 ku berlarian ke lapangan dan main ayun2an aku belum pernah sekalipun melihat wajah bhagia mereka seperti saat ini,tiba waktunya aku undur diri,pak ustat pun berharap aku tinggal di tempat ini,tp ku tolak permintaan itu,kakak ku akan menikah dia akan tinggal dengan suaminya aku akan menempati rumah kecil peninggalan bapak ibuku.

Ku cium adiku satu persatu,mereka melihat air mataku membasahi pipiku,dan bertanya " kenapa kakak menangis.." ujar salah satu adiku, "kakak hanya capek ujarku,kalian di sini baik baik dengarkan kata pak ustat dan ibu2 yang merawat kalian..!!" kataku sambil berlinangan air mataku.
"tidak kak,kita mau ikut kakak saja kami janji gak nakal jangan tinggal kami kak..." ujar salah satu adiku,betapa runtuh hati jiwa ini,belum pernah sekalipun kami berpisah,tp demi kebahagiaan mereka ini harus di terjadi,
"Dengar ya,kalau kalian masih menangis dan gak dengar omonganku jangan harap kalian bertemu aku lagi.." kataku sambil sedikit membentak.
"iya kak,kami janji akan patuh sama pak ustat dan ibu di sini yang merawat kami,tapi kakak janji jangan pernah tinggal kan kami..."
Ya allah,sungguh aku tak mampu menrima ucapan salah satu adiku,aku sungguh gak mampu ku peluk mereka dan kami pun menangis bersama sama.dan aku pun berpamitan pada adik2ku "jaga diri kalian baik2,lain kali kakak akan datang menjenguk kalian.."ujarku.

"iya kakak,kami tunggu,kata si bungsu,da ..da ..da kakak ..cepat jenguk kami lagi ya,"dia lambaikan tangan untuku sambil ku lihat air mata mereka menetes di pipinya.

Akupun berpamitan,sekali lagi pak ustat menawariku tinggal di asrama,tp aku tolak,aku ingin merawat rumah peninggalan orang tuaku.
Setelah ku keluar dari pintu pagar,ku lihat adik bungsuku lari mengejarku sambil menangis memanggil namaku,dengan cepa2 aku langkahkan kaki ini yang di temani sebuah kayu untuk menghindari adiku.

"Kakakkkkkkkkkk....jangan tinggal kan kami,aku mau kakak...." ku dengar rengekan si bungsu,aku yang sembunyi di balik mobil yang terparkir di depan asrama pun tak mampu memendung air mata,MAAF kan aku,,ini semua demi kebaikan kalian batinku.

Kini rumah yang aku tempati begitu sepi.tak terasa air mata ini jatuh di pipi,aku rindu adik2 u,aku rindu canda tawa mereka,aku rindu melihat mereka gembira sekali di saat aku pulang ngamen ku bawakan cilok kesukaan mereka,tp kini hidupku sunyi sepi,tapi aku berharap mereka akan sukses suatu kelak tidak seperti aku yang cacat dan tidak berpendidikan sama sekali,malam telah larut,mata ini ingin ku tutup,tapi air mata ini tetap meleleh..AKU KANGEN KALIAN DIK ucap lirihku dan akhrinya aku pun tertidur.

~TAMAT~

*NIB : mampukah kita menyayangi saudara saudara kita.

=>

anakku cahaya hidup ku


Sejak kecil ke dua anaku sudah menjadi piatu dengan berjualan krupuk di sebuah pasar kropyak aku pun berusaha memenuhi kebutuhan mereka.
hingga di saat mereka memasuki dewasa aku betul betul tidak mampu untuk membiayai ke dua putraku memasuki perguruan tinggi,
Tiba tiba di saat aku melamun putra sulungku pun mengahimpiri ku. "pak sudahlah aku gak usah sekolah,biar si bungsu yang meneruskan sekolahnya,aku ingin membantu bapak mencari biaya buat si bungsu." ujar si sulung aku pun meminta maaf sebagai orang tua aku tak sanggup membahagiakan mereka.

Beberapa tahun kemudian si bungsu sudah menjadi seorang dokter terkenal dan di tugaskan di luar negri,hatiku begitu bangga dengan kesukses nya itu,tp tidak dengan putra sulungku,karenasekolah terlalu rendah dia pun membuka usaha jualan krupuk di rumah dan keliling dari kampung ke kampung lain.

Hingga suatu saat telah terjadi sesuatu putra sulungku tertabrak mobil dri belakang dan kepala nya membentur keras ke aspal mengakibatkan dia mengalami kebutaan,hatiku sedih ingin aku membantunya mencari penambahan penghasilan tp umurku sudah 85 tahun,aku seorang kakek tua yang hanya bisa berbaring di kasur karena badan ini sudah tak sanggup untuk melakukan aktifitas sehari2.

Hingga soreh itu ku dengar putra bungsu ku datang dan berniat ingin membawaku ke luar negri dan merawatku,si sulung pun bersikeras dia masih mampu untuk merawatku dan keberatan jika aku di bawa ke luar negri.
Debat saudara itu pun berlanjut dan si bungsu berniat membawa ini ke pengadilan..

Hatiku menangis pilu kenapa semua ini terjadi ke dua anaku bertahan ingin merawatku bapak tua yang hanya bisa menjadi penghuni tempat tidur,

Persidangan pun di mulai aku melihat putra sulungku begitu sedih aku yakin dia akan berusaha untuk mempertahankan aku tetap tinggal bersama dia,persidangan demi persidangan mereka tetep bersikukuh untuk merawatku.
Aku berpikir anak bungsuku mampu membayar biaya pengacara tp bagimana si sulung,
Ya allah dengan membawa tongkat tiap pagi hari dia berangkat untuk menjual krupuk daganganya dia berusaha mencari biaya untuk menyewa pengacara karena takut hak asu jatuh ke tangan si bungsu.

Di kelanjutan persidangangan akhirnya pengadilan menyuruh aku datang menjadi saksi dan pak hakim pun bertanya padaku mau ikut siapa
"anak sulungku adalah mata kananku,anak bungsuku adalah mata kiriku,aku tak mau kehilangan sebelah mataku " ujarku..tampa ku sadari anak sulungku dan si bungsu datang memeluk aku mereka menangis dan selalu ucapkan terima kasih ke padaku,tk lupa pula ku ucap syukur di beri ke dua putra yang begitu menyangiku.
Dan keputusan hakim pun aku tetap di rawat putra sulungku,karena sekian tahun aku tinggal bersamanya.

Mendengar keputusan itu pun si bungsu menangis dan meminta maaf karena tak bisa merawatku,dan dia pun berjanji semua biaya aku dan kakanya dia yang menangung dan berniat mengobati mata kakaknya yang buta karena kecelakaan.

Air mata ini jatuh ku ucap syukur ke pada sang pencipta karen memberi ke dua putra yang begitu menyayangiku.
Jika anak orang lain bersitegang ke pengadilan karena harta warisan,tidak dengan putraku,mereka memperebutkan hak mengasuhku.

*APA YANG KITA TANAM SAAT INI INGATLAH KELAK KITA AKAN MEMETIK BUAHNYA.

Like fp nya ya.

==>

penesalan seorang anak kepada ibunya

Ibuku buta sebelah matanya, aku sangat malu dan sangat membencinya. Dia memasak dikantin sekolah untuk murid-murid dan guru-guru guna mencukupi kebutuhan dirinya dan diriku. Suatu hari saat aku masuk sekolah dia mendatangiku dan mengucap salam kepadaku. Aku begitu malu didepan teman-temanku, bagaimana dia bisa melakukan itu kepadaku dihadapan teman-temanku. Lalu aku abaikan dia dan melemparkan pandangan benci kepadanya sambil berlari.

Besoknya salah seorang temanku mengejekku dengan berkata “heh ibumu hanya punya sebelah mata” Saat itu ingin mati aku rasanya, dan ingin ibuku itu hilang dan pergi dari kehidupanku. Lalu aku bertengkar dengan ibuku seraya mengatakan: “kalau ibu hanya menjadi bahan tertawaan teman-temanku mengapa ibu tak mati saja” Ibuku hanya diam dan tak menjawab makian yang aku tujukan kepadanya.Aku sama sekali tak memikirkan apa yang aku katakan kepadanya, karena saat itu aku sangat marah kepadanya karena memendam rasa malu. Dan aku juga tidak memperdulikan perasaannya terhadap makianku itu

Rasanya aku ingin keluar dari rumah ibuku. Jadi aku belajar dengan rajin agar aku dapat beasiswa keluar negeri dan meninggalkan ibuku yang buta itu.

Setelah lama berselang aku menikah, kubeli rumah dan aku hidup bahagia dengan mempunyai dua anak. Suatu waktu ibuku mengunjungiku, karena sudah bertahun-tahun dia tidak menemuiku dan tidak pernah bertemu dengan cucunya. Ketika dia memberi salam dan istriku membukakan pintu lalu anak-anakku menertawakannyakemudian takut karena melihat wajahnya yang hanya dengan satu mata. Lalu aku menemuinya diluar dan berteriak kepadanya: “betapa beraninya kamu kerumahku dan menakut-nakuti anak-anakku, pergi dari sini sekarang juga” Ibuku hanya menjawab: “ Maaf saya salah alamat dan kemudian dia pun pergi”

Suatu waktu ada undangan reuni sekolah dikirimkan kerumahku. Jadi aku berbohong kepada istriku dan aku bilang ada dinas keluar kota kepadanya. Usai reuni aku mampir kekampungku hanya untuk sekedar rasa ingin tahu. Kemudian salah seorang tetanggaku mengatakan kepadaku bahwa ibuku telah meninggal dunia

Aku tak terharu ataupun meneteskan airmata. Lalu tetanggaku itu menyerahkan sepucuk surat dari ibuku untukku. Lalu aku pun membuka dan membacanya:

Anakku tersayang, aku memikirkanmu setiap saat.
Maafkan aku telah datang kerumahmu dan menakut-nakuti anak-anakmu.
Aku kerumahmu karena kangen dan ingin melihat cucuku.
Walaupun kamu mengusirku tapi aku senang dapat melihatmu dan anak-anakmu.
Dan aku sangat bergembira setelah aku dengar engkau mau datang reuni.
Tapi sayangnya aku tidak bisa bangkit dari tempat tidurku untuk melihatmu.
Anakku, maafkan aku yang telah membuatmu malu sewaktu kita masih bersama.
Ketahuilah anakku, sewaktu kau masih kecil kau mengalami kecelakaan yang membuatmu kehilangan sebelah matamu.
Sebagai seorang ibu aku tidak bisa mendiamkan kamu tumbuh hidup hanya dengan satu mata saja.
Jadi aku donorkan mataku yang sebelah untukmu.
Aku sangat bangga pada anakku yang telah memperlihatkanku dunia baru untukku ditempatku dengan mata itu.
Bersama dengan cintaku.
IBUMU.

Akupun hanya bisa terkulai lemas memegang surat itu,MAAFKAN AKU IBU.

~TAMAT~

Kau korbankan nyawa mu demi anakmu ini bu

Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya telah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya itu.
Ternyata anaknya mempunyai tabiat yang buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, sehingga membuat ibunya sering menangis meratapi nasibnya yang malang.
Ibu itu sering berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolonglah Engkau mau menyadarkan anakku yang kusayangi, supaya ia tidak berbuat kejahatan lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.”
Namun, semakin lama anak itu semakin larut dalam perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia masuk keluar penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah seorang penduduk. Sialnya, ia bernasib malang dan akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian ia dibawa menghadap raja untuk diadili, sesuai dengan kebiasaan di kerajaan itu. Setelah ditimbang berdasarkan perbuatannya, maka tanpa ampun si anak dijatuhi hukuman pancung.
Pengumuman akan hal ini disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat tepat pada saat lonceng gereja berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman pancung ini juga sampai ke telinga si ibu. Dia menangis sambil meratapi anaknya yang ia kasihi. Sambil berlutut, ia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba-Mu yang sudah tua dan renta ini yang memikul dosa dan kesalahannya.”
Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya jangan sampai di hukum pancung, namun keputusan sudah bulat. Si anak harus menjalani hukumannya. Dengan hati yang hancur, si ibu pulang ke rumah. Dia tidak berhenti berdoa supaya anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan dalam tidurnya ia kemudian bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, di tempat yang sudah disediakan, rakyat berbondong-bondong datang untuk menyaksikan hukuman pancung itu. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan si anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa, ia menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun, sampai waktu yang ditentukan, lonceng tidak juga berdentang.
Suasana mulai berisik. Sudah lewat lima menit dari waktunya. Akhirnya ditemuilah petugas yang bertugas membunyikan lonceng di gereja. Petugasnya pun mengaku heran, karena sudah sejak tadi ia menarik tali lonceng, namun suaranya tidak ada.
Ketika mereka semua masih terheran-heran,tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah yang datangnya dari atas, berasal dari rumah lonceng di atas gedung gereja. Dengan hati yang berdebar-debar semua orang menantikan ketika beberapa orang naik ke atas untuk menyelidiki sumber darah itu.
Tahukah Anda apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata dalam lonceng besar itu ditemukan tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Ibu tua itu yang berada dalam lonceng tersebut sedang memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tak berbunyi. Sebagai gantinya kepala ibu tua itu yang setiap kali terbentur kepada dinding lonceng sehingga hancur.
Seluruh orang yang menyaksikan merasa ngeri melihat pemandangan yang menyedihkan itu, sehingga mereka meneteskan air mata. Sementara anak lelaki itu memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selama ini hanya dapat membuat hati ibunya kecewa.
Ternyata, pada malam sebelumnya, si Ibu dengan susah payah menaiki rumah lonceng dan masuk ke dalam lonceng itu untuk dapat memeluk bandulnya, agar lonceng tidak dapat berdentang, sehingga anaknya tidak perlu dipancung.
Demikian, sangat jelas kasih seorang Ibu untuk anaknya. Walaupun betapa jahatnya si anak. Marilah kita dapat menunjukkan kasih sayang kita terhadap orangtua masing-masing selagi kita masih mampu karena sesungguhnya mereka adalah sumber kasih sayang hidup kita.
~TAMAT~

Panggil Aku Ibu Nak

Aku baru saja melahirkan karena himpitan ekonomi aku pun nekat meninggalkan bayiku yang baru berumur 7 bulan untuk di rawat suami dan ibu mertuaku,
Pertama kali menginjakan kaki di hongkong membuat ku tertekan majikan baru yang super cerewet di larang pakai hp dan tidak di kasih libur membuatku putus hubungan dengan keluargaku,
2 tahun sudah kontrak pertamaku selesai aku pun berniat mencari majikan baru tampa pulang kampung terlebih dahulu,2 tahun itu juga aku baru pertama kali mendengar suara suami beserta anaku,aku terharu mendengar suwara anaku ternyata dia sudah besar walaupun di tlp dia memanggilku mbak,aku menyadari mungkin ini hanya yang pertama lain kali pasti memanggilku mama.

Di rumah bos yang baru dan kontrak yang baru.

Aku mendapatkan kebebasan yang sangat luar biasa,aku semakin tak terkendali dengan tingkahku uang gajiku habis hanya untuk berfoya foya aku bagaikan ke luar dri penjara semua yang aku ingingkan aku harus penuhi..
dan ini semua telah di ketahui suamiku,seorangtetanggaku kampung telah mengbarkan kedaanku yang amburadul,suamiku sempat marah dan menyuruhku pulang dr pada aku harus menjadi wanita liar di negara orang,tp aku tak perduli aku hanya mengirimkan uang buat jajan anaku membelikan segala sesuatu yang dia butuhkan tp melalui tangan keluargaku,tak pernah lagi aku tlp suamiku apa lagi kirim uang untuknya,

4 tahun sudah setelah bekerja di hongkong..

Ku dengar suamiku menikah lagi,dia telah menceraikan aku karena dia bilang aku istri tak tau diri,aku cuek saja aku tak merasa sakit hati karena aku juga bisa cari lagi.

Wallahu'alam..aku tak tau kenapa diriku berubah,aku tahu aku salah bergaul dengan teman yang salah,tp karena kemewahan dan kebebasan yang menjadikan aku lupa prinsip utamaku dan kebahgian keluargaku..

Setiap malam Ku merenungi ini semua aku semakin tua aku ingat anaku di rumah hingga aku putuskan aku pulang kampung untuk merawatnya..

Sampai di kampung halaman.

Aku tuju rumah ibuku,karena aku tahu suamiku telah menceraikan aku,
Esok harinya pagi2 sekali aku datang ke rumah mantan suamiku karena takut anaku sudah berangkat sekolah terlebih dahulu..
Sampai di depan pintu rumah mantan suamiku ku lihat wanita itu tak lain istri suamiku menyuapi sarapan dan merawat anaku seperti anak kandung dia sendiri,dadaku sesak melihat itu semua segera ku hampiri mereka dengan wajah yang terkejut wanita itu bilang siapa aku..
Memang dia gak akan mengenalku karena aku di luar negri,dengan bergegas wanita itu memanggil suaminya tak lain mantan suamiku...dia terkejut dan beertanya kapan aku pulang..aku katakan baru semalam,dan tampa basa basi aku meminta ijin untuk membawa putriku jalan2 dan meminta ijin untuk merawatnya,
Dri awal suamiku menolak dia katakan 6 tahun sudah aku lantarkan anaku sendiri kini seenaknya mau ambil saja..
Aku menangis dan terus memohon ...karena melihat aku menangis wanita itu kelihatan iba melihatku dia memohon sama suaminya agar menginjinkan kalau hanya untuk jalan2,,biar bagaimanapun aku ibu kandungnya.

Akhirnya mantan suamiku mengijinkan saat beranjak mau menggandeng tangan anaku..aku terkejut melihat dia lari ke pelukan ibu tirinya..aku meneteskan air mata aku jatuh terkulai anaku sendiri sudah gak mau aku gendong,aku bujuk dia aku kasih tau dia kalau aku ibu kandungnya,,dengan menangis putriku memeluk istri suamiku sambil bilang bahwa dia lah ibunya bukan aku..

Ya allah aku ingin menangis sekuat2nya karena dada ini terasa sesak tp gimana lagi ku bujuk dan di bujuk ibu tirinya dia tetap tak mau denganku..

Aku pun pasrah hingga 4 tahun sudah kepulanganku putriku tetap memanggilku tante hanya istri mantan suamiku lah yang dia panggil ibu..

Walaupun sempat dia panggil ibu kepadaku itu karena suruhan wanita itu..karena dia juga memhami arti sebuah panggilan untuk jiwa seorang ibu.

Kapan nak kau memanggilku IBU..

Ku tulis cerita ini dengan air mata penyesalan.

Pelukan Terakhir

Kamis, 24 februari .. Adalah hari ulang tahunku yang ke 15, seperti tahun-tahun yg telah lewat, aku tidak mendapat kejutan apapun dari mama yg sibuk dengan pekerjaanya ataupun papa yg telah pergi meninggalkan aku dan mama bahkan tidak mau mengaggapku sbg anak karna keadaanku yang tak mampu berjalan bahkan bebicara, aku bagai patung pajangan dirumahku sendiri.

Lasri, iya itulah nama mbok sri wanita yg merawatku, pembantu yg sudah mengabdikan dirinya pada mama bertahun-tahun, dia datang membuatkan aku nasi kuning lalu memberiku hadiah "jam dinding" .. "artinya adalah waktu, lihat jam nya berputar, itu menandakan akan ada waktu dimana mama bisa memeluk dan menciummu" begitu kata mbok sri yg membelai rambut dikepalaku yg berada dipangkuanya.. Mama dimana dia, aku ingin dia ada disini aku ingin dia yg jadi mbok sri.. Mama, aku rindu mama.. Tidak kah mama mau memperhatikanku sedikit saja.. Ada suara seseorang masuk rumah, mama? Itukah mama? Tidak itu bude hanah ..
Bude hanah itu galak, dia suka marah2 .. Sudah tak heran, hari ini ia membawa berita dan aku langsung mendengar cacian dari budeku "kamu itu anak pembawa sial ! Bapakmu pergi meninggalkan mamamu karna kamu,dari dulu keluarga ga ada yg terima kamu, sedetikpun mamamu ga pernah mau menggendongmu, tahu? Sekarang karna sms dari pembantu sialan yg bilang kalau kamu ulang tahun hari ini membuat mamamu kecelakaan !" begitu cacianya ..

Itu membuatku tak henti menangis, mama ..
Dimana dia, dia kecelakaan, karna aku , aku berteriak pada bude untuk mengantarkan aku kemama namun yg keluar dari mulutku hanya suara aneh "Aaaagggghhhhhuuuuhhh" itu membuat budeku melotot dan meninggalkan aku yg masih bersama mbok sri meninggalkan sebuah kalimat "Sekarang juga,kamu dipecat !" aku mengguncang2 tubuh mbok sri .. Dia tak mau menegok dia hanya menunduk dan menangis lalu memeluku erat-erat .. Tidak, mbok tidak boleh pergi .. Aku ingin bicara begitu namun aku tak sanggup ..

New york, mama skrg berada dinew york .. Sedang apa, aku tak tahu ..
Mbok sri benar2 meninggalkan aku, aku dirumah bersama bude yg kerjanya selalu memarahiku, aku sering mengadu sakit kepala dan mimisan namun tak dihiraukanya .. Mataku sering kabur, tetap tak dihiraukan .. Hingga akhirnya aku masuk rumah sakit, berbulan-bulan aku dirumah sakit, kata dokter sakit ku leukimia .. Apa itu? Aku tak tahu .. Yg aku tahu kepalaku sakit ..
mama .. Dia tidak pernah terlihat .. Mbok sri juga tidak ada, yg ada hanya alat-alat diruanganku ini, sungguh bosan, aku ingin mama, aku ingin mbok sri ..
Pukul 22.00, mama datang .. Dia menghampiriku, aku ingin memeluknya tapi dia hanya berkata "makanya, kalau suruh makan jangan susah .. Bikin susah orang lain saja kamu" dan pergi lagi ..
Oh tidak, mama aku hanya ingin dipeluk, dibelai saja tak apa maa .. Kalau bisa cium aku, aku mohon maa ..

Istighfar, mbok sri selalu menyurhku mengucap istighfar bila merasa sakit .. Aku mengucap nya dalam hati ketika aku merasa sakit seperti saat ini, mama .. Sakit ma .. Kepalaku sakit, tubuhku sakit, namun hari sudah malam aku berteriak namun tak ada yg dengar .. Maa .. Bantu aku ma, mbok sri .. Mbok sri bantu aku ..
Aku tak sadar, aku tertidur dan ketika aku bangun aku sudah berada diruang yg lengkap dengan peralatan dokter, beberapa orang memakai seragam putih tak ada mama, tak ada mbok sri .. Hanya bayangan papa yg kulihat diwajah dokter yg membelai rambutku dan menyuntiku hingga aku tertidur ..

Kurnia, itu nama mamaku .. Mama yg tak juga datang ketika aku sudah terbangun, tak ada orang disekelilingku .. Namun aku mendengar banyak isak tangis dari luar ruanganku, mungkin itu orang-orang yg menunggu keluarga nya di RS ini, boneka barby ini pemberian mama 2 tahun lalu saat aku berulang tahun .. Aku menemukanya dimeja kamarku, tak ada nama pengirimnya tapi aku yakin itu dari mama,
cekreek.. Suara pintu terbuka !! Mama.. Itu mama , aku tersenyum menyambutnya namun dia terpaku didaun pintu dan memandangi aku yg tersenyum manja .. Oh tidak, air mata mama mengalir , mama kenapa ? Mama sedih melihatku? Aku menyusahkanmu ma? Tidak ..tidak aku janji ma, setelah sembuh aku tidak akan nakal dan menyusahkan mama lagi, mam berhentilah menangis maa .. Aku mohon,
mama menghampiriku, oh tuhan, mama memeluku .. Mama menciumku .. Ingin rasanya membalas pelukan mama namun tubuhku tak kuat .. Tubuhku melayang, aku tak ingin tertidur .. Jangan lepaskan pelukanmu
maa.. Jangan ..
Tubuhku terus melayang menggapai bintang, mama .. Aku melihatnya dibawah sana memeluku, menangis terus menangis .. Namun aku terus dituntun untuk kebintang .. Oh tidak mama tidak terlihat lagi ..mamaaa...
Aku bahagia, bahagia Disisi Allah sekarang ..

Kisah Aku Dan Ibuku


Konon pada jaman dahulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan.. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sdh tdk berdaya sehingga tdk memberatkan kehidupan anak2nya..

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya kehutan, krn si Ibu telah lumpuh dan agak pikun..
Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tsb dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih krn ternyata dia tdk menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya..

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata 'Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil smp dewasa Ibu selalu merawatmu dgn segenap cintaku. Bahkan smp hari ini rasa sayangku tdk berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sdh menandai sepanjang jalan yang kita lalui dgn ranting2 kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah..'

Setelah mendengar kata2 tsb, si anak menangis dgn sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendonya utk membawa si Ibu pulang kerumah. Pemuda tsb akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya smp Ibunya meninggal..

Orang tua bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tdk berdaya..
Krn pd saat engkau menggapai sukses atau saat engkau dlm keadaan susah, hanya orang tua yang mengerti kita dan bathinnya akan menderita kalau kita susah.. Bukan istri, suami, ataupun teman..

Orang tua kita tdk pnah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kpd orang tua.. Namun Papa dan Mama kita akan tetap mengasihi kita..
Mulai sekarang mari kita lebih mengasihi orang tua kita selagi mereka masih hidup..

By "Pietha Mietzhu"
Bantu kirim yg merasa syang sama ortu'a
i Loveee u ibu ♡